Rabu, 13 Mei 2009

Madu Efektif Redakan Sinusitis

USC University Hospital melaporkan bahwa madu dapat membantu meredakan sinusitis kronis.
Satu studi laboratorium yang dilakukan di University of Ottawa menemukan bahwa "penghapus kuman alamiah" yang terkandung di dalam madu dapat membunuh bakteri yang mengakibatkan sinusitis", demikian ditulis oleh Xinhuanet-OANA.
Beberapa peneliti menguji coba madu pada bahan "biofilm" yang berisi bakteri sinusitis, dan mendapati bahwa madu sesungguhnya lebih efektif dalam membunuh bakteri dibandingkan dengan anti-biotik, yang digunakan secara tradisional.
Direktur Pediatric Clinical Research di Penn State Dr Ian Paul mengomentari studi baru tersebut. "Bakteri tidak berkembang secara baik di dalam madu! Ada data bahwa madu mujarab untuk mengobati luka, dalam memusnahkan bakteri yang berkembang pada luka. Jadi, sama sekali tidak mengejutkan bahwa madu akan efektif dalam membunuh bakteri ini."
Dr Paul dan satu tim di Penn State College of Medicine menyelesaikan satu studi lain tahun lalu, yang mendapati bahwa madu lebih efektif dibandingkan dengan obat batuk komersial dalam meredakan batuk pada anak-anak.
Ada dua jenis madu yang ditemukan para peneliti Kanada tersebut terbukti paling efektif terhadap sinusitis: madu Manuka dari Selandia Baru dan madu Sidr dari Yaman.

Obat Herbal vs Obat Modern

Bagaikan sebuah virus, metoda pengobatan menggunakan herbal telah beredar luas di penjuru dunia. Dan tidak sedikit stasiun televisi yang memiliki program khusus untuk membicarakan metoda pengobatan tersebut, bahkan ada yang mengobati pasien hanya dengan mendengarkan keluhan melalui saluran telepon.
Metoda Pengobatan Herbal Ditinjau Aspek Medis
Sejarah pengobatan di dunia sebenarnya telah dimulai sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Pada awalnya, metoda pengobatan dilakukan menggunakan berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Hal ini merupakan pencerminan dari kebudayaan dan kepercayaan magis mereka saat itu, yaitu adanya kemampuan sihir, animisme, dan kehadiran dewa-dewi.
Kini, bahkan ketika ilmu pengetahuan telah berkembang sangat pesat, pelayanan kesehatan menggunakan metoda pengobatan tradisional masih banyak dimanfaatkan, baik di negara yang sedang berkembang maupun negara maju. Menurut WHO, hingga 80% penduduk di negara berkembang dan 65% penduduk di negara maju telah menggunakan obat herbal.
Disebutkan juga bahwa faktor pendorong terjadinya penggunaan obat herbal di negara maju antara lain adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronis meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu (seperti kanker), serta meluasnya akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia. Dan data dari sekretariat Convention on Biological Diversity (CBD) menunjukkan angka penjualan global obat herbal dapat menyentuh angka 60 miliar dollar AS setiap tahunnya.
Di Indonesia sendiri, obat herbal telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu. Hal ini dapat dibuktikan dari penemuan naskah lama pada daun lontar husodo (Jawa), Usada (Bali), lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen serat primbon Jampi, serat racikan Boreh Wulang Ndalem, dan relief candi Borobudur yang menggambarkan seseorang yang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa obat-obat modern yang ada saat ini lahir dari sebagian obat tradisional. Sebut saja quinine yang berasal dari tanaman kina sebagai obat malaria, dan vincristine (dari tanaman tapak dara) sebagai salah satu obat kanker. Kedua obat ini sebenarnya telah digunakan sejak dahulu sebagai obat tradisional, namun dosisnya belum dapat ditentukan. Baru setelah ditemukan suatu teknik pemurnian substansi yang efektif, takaran dan khasiatnya dapat diukur dan dikembangkan menjadi obat modern.
Kategori Obat TradisionalMenurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
(Permenkes RI) nomor 246/Menkes/Per/V/1990, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah setiap bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Obat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum (bubuk, kapsul, tablet), ditempelkan pada permukaan kulit atau mukosa (suppositoria/yang dimasukkan ke dalam lubang kemaluan atau lubang anus), tetapi tidak dalam bentuk obat suntik atau gas.
Pengobatan Tradisional = Ilmu Kedokteran Modern?
Ilmu kedokteran modern berkembang pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Inggris, Jerman, dan Perancis. Disebut juga ilmu kedokteran ilmiah dimana setiap pengobatan yang diberikan harus dibuktikan melalui proses uji klinis. Kedokteran berdasarkan bukti (evidence-based medicine) ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan cara kerja yang efektif dengan menggunakan metode ilmiah serta informasi sains global yang modern.
Begitupun dengan obat tradisional. Agar setara dengan obat modern, obat tradisional harus melalui berbagai tingkatan uji klinis. Berdasarkan tingkatan uji klinisnya, obat tradisonal dapat digolongkan menjadi jamu (empirical based herbal medicine), obat ekstrak alam (obat herbal terstandar/scientific based herbal medicine), dan fitofarmaka (clinical based herbal medicine). Jamu adalah jenis herbal yang belum melalui proses uji kelayakan, hanya berdasarkan pengalaman masyarakat, sedangkan obat tradisional telah diuji khasiat dan toksisitasnya (kandungan racun), namun belum diujicobakan penggunaannya pada pasien. Tingkat herbal yang saat ini telah diakui oleh ilmu kedokteran modern adalah yang telah melalui tiga uji penting, yaitu uji praklinik (uji khasiat dan toksisitas), uji teknologi farmasi untuk menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama hingga dapat dibuat produk yang terstandardisasi, serta uji klinis kepada pasien. Agar setara dengan obat modern, obat tradisional harus melewati berbagai proses tersebut. Apabila telah lulus uji klinis, obat herbal tersebut kemudian disebut fitofarmaka yang layak diresepkan oleh dokter dan dapat beredar di pusat pelayanan kesehatan.
Sejauh ini telah beredar 5-7 obat fitofarmaka yang sesuai standar farmasi modern, kesemuanya memiliki logo fitofarmaka pada kemasannya, yaitu tanda "akar hijau" menyerupai tanda salju dengan latar belakang berwarna kuning muda, dikelilingi lingkaran berwarna hijau muda. Logo ini merupakan tanda sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).
Departemen Kesehatan sendiri telah mengadopsi pengobatan herbal dalam pelayanan medis dengan sebutan pengobatan komplementer melalui Kepmenkes 1109/Menkes/Per/IX/2007 mengenai Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan Kepmekes 1076/Menkes/SK/VII/2003 mengenai Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.
Bahkan sejak tahun 2003 telah dibentuk Asosiasi Pengobatan Tradisional Ramuan Indonesia (ASPERTI), dan saat ini Universitas Indonesia (UI) sedang mempersiapkan Fakultas Kedokteran Herbal (Komplementer) sebagai jurusan baru yang rencananya akan dibuka pada tahun 2012. Sebenarnya ilmu kedokteran modern tidak menyangkal efektivitas metoda pengobatan tradisional untuk penyakit tertentu, selama telah dibuktikan melalui uji klinis yang memadai, atau pengobatan dengan metoda konvensional sudah tidak bermanfaat.
Bagaimanapun, pengobatan tersebut sebaiknya diberikan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan mengenai data pasien dan hasil pemeriksaan fisis yang memadai, mengingat fungsi tubuh yang berbeda setiap individu. Jadi tidak dapat diputuskan hanya melalui perbincangan di telepon.
Sebenarnya prinsip obat tradisional tidak jauh berbeda dengan obat modern. Apabila tidak digunakan secara tepat juga dapat mendatangkan efek buruk, sehingga tidak benar pernyataan yang beredar di masyarakat bahwa obat tradisional sama sekali tidak memiliki efek samping. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua herbal memiliki khasiat dan aman untuk dikonsumsi, sehingga kembali lagi kepada para konsumen agar lebih teliti dalam memilih obat tradisional yang digunakan. Harus pula dibedakan antara istilah pengobatan komplementer dengan pengobatan alternatif.
Maksud pengobatan komplementer adalah bahwa obat tradisional tidak digunakan secara tunggal untuk mengobati penyakit tertentu, tetapi sebagai obat pendamping yang telah disesuaikan dengan mekanisme kerja obat modern agar tidak terjadi interaksi yang merugikan, sedangkan istilah pengobatan alternatif menempatkan obat tradisional sebagai obat pilihan pengganti obat modern yang telah lulus uji klinis. Bahkan pasien kanker yang mencari pengobatan ke Guangzhou mendapat obat modern dengan dibekali herbal cina sebagai suplemen. Jadi jangan hanya karena meletakkan harapan yang begitu besar kepada metoda pengobatan tradisional sehingga metoda pengobatan modern dilupakan begitu saja. Terkadang pengobatan tradisional yang tidak tepat guna hanya akan menunda proses pengobatan yang lebih optimal, sehingga alih-alih sembuh justru membuat penyakit semakin memburuk dan terlambat ditangani

Jumat, 08 Mei 2009

I Can See Clear With My Glasses

Kacamata rasanya tak hanya sekedar alat untuk membantu penglihatan untuk mereka yang mengalami masalah dengan matanya. Dengan berbagai macam model bingkai, sekarang ini kacamata juga hadir sebagai alat yang menunjang penampilan seseorang.
Berikut adalah cara merawat kacamata agar bisa awet.
Ingin setelan kacamata tetap kencang, jaga setelannya dengan cara memegang kedua belah gagangnya saat memakai atau melepaskan kacamata. Bila sedang tak digunakan, letakkan kacamata dalam posisi terbuka. Cara ini sangat bagus untuk menjaga kestabilan kacamata dan menahan lensa tetap berada di atas.
Selesai melakukan aktivitas seperti berolahraga atau aktivitas lain yang berkeringat, bersihkan kacamata. Lap kacamata dengan lap khusus kacamata atau dengan kain baku yang halus. Jangan menggunakan tissue, sebab jika dibersihkan dengan tissue yang terjadi malah baret. Agar lapisan anti refleksi dan permukaan lensa tidak lecet atau gores, hindari membersihkan lensa dalam keadaan kering.
Jika menyemprotkan sesuatu, jangan dilakukan dekat kacamata sebab zat kimianya bisa menempel ketat di lensa.
Jika ingin mencuci lensa, lakukan dengan sabun cuci tangan yang lembut lalu keringkan dengan kain halus. Saat ingin menyimpannya, simpan dengan baik dalam kotaknya. Menyimpan kacamata di dalam saku ataupun tas tanpa perlindungan adalah sama sekali bukan tindakan bijaksana.

Cara Alami Atasi Komedo

Akibat timbunan sel kulit mati, minyak atau sisa make-up yang tidak bersih dan akhirnya menyumbat pori-pori wajah menimbulkan komedo. Komedo biasanya bermunculan di area T wajah, yaitu dahi dan hidung yang produksi minyaknya banyak. Komedo adalah tahap awal terjadinya jerawat. Jika tumpukan komedo terkena bakteri akan terjadi pembengkakan dan timbullah jerawat.
Ada dua macam komedo, yaitu whitehead dan blackheads. Whitehead berupa kumpulan minyak dan lemak kulit yang mengeras berwarna putih atau kekuningan. Sedangkan blackhead adalah whitehead yang menghitam karena penumpukan debu dan kotoran.
Untuk menghilangkan komedo, lakukan facial secara teratur. Jika ingin lebih praktis, Anda bisa menggunakan plester penghilang komedo (pore pack). Tapi jika ingin menghilangkannya dengan cara alami, berikut beberapa pilihannya.
Komedo bisa dhilangkan dengan bahan alami seperti putih telur, lemon, dan daun kemangi. Ambil putih telur, kocok hingga berbusa. Ambil selembar kapas, rendam dengan putih telur, tempelkan ke hidung dan biarkan sampai mengering, sekitar 30 menit. Setelah kering, lepas kapas secara perlahan lalu bersihkan wajah dengan sabun atau susu pembersih dan toner.
Selain bisa mengurangi produksi minyak dan menghancurkan minyak atau lemak yang sudah mengeras, lemon juga bisa menutup pori-pori sehingga mencegah timbulnya komedo. Caranya, olesi wajah dengan air perasan lemon atau usapkan irisan lemon ke wajah, diamkan selama 15 menit hingga kulit terasa kencang. Bilas air dengan air dingin agar pori-pori menutup.
Daun kemangi rupanya tak hanya enak dijadikan lalapan yang dapat mencegah bau badan, tapi juga untuk menghilangkan komedo. Tumbuk daun kemangi hingga halus, oleskan sebagai masker di bagian wajah yang berkomedo. Diamkan selama 15-20 menit. Bersihkan masker kemangi. Bilas dengan air dingin.
Perawatan dengan bahan alami ini sebaiknya dilakukan secara teratur agar komedo tak sempat hadir di wajah.

Happy B'day


Hari ini tanggal 8 Mei 2009 suamiku berulang tahun yang ke-34. Happy b'day Ayah, aku hanya bisa mendoakan semoga Ayah menjadi lebih bijak sebagai seorang bapak, kado terindah untuk Ayah di hari ini adalah Adi sudah mulai bisa jalan meski kadang-kadang masih pegangan. Wish U all the best.